PARTIKEL PENYUSUN ATOM
Ada tiga
partikel dasar penyusun atom, yaitu electron, proton, dan neutron yang
masing-masing memiliki karakteristik (sifat) dan posisi yang berbeda didalam
atom.
a.
Elektron
Pada tahun 1879, seorang ilmuwan
yang bernama Sir William Crookes melakukan
eksperimen menggunakan tabung sinar katode untuk mengetahui daya hantar listrik
di ruang hampa. Tabung sinar katode terbuat dari tabung kaca bertekanan sangat
rendah yang didalamnya dipasang dua electrode yang berfungsi sebagai katode dan
anode. Hasil dari eksperimen tersebut menunjukkan bahwa pada tekanan tertinggi gas
tidak dapat menghantarkan listrik, tetapi pada tekanan terendah, gas dapat
menghantarkan listrik. Dengan mengatur tekanan gas dan tegangan listrik dalam
tabung, terjadi oancaran sinar katode menuju ke anode. Sinar inilah yang
dikenal dengan sebutan sinar katode.
Sinar katode bermuatan listrik negative sehingga
dapat dibelokkan oleh medan listrik maupun medan magnet mendekati kutub
bermuatan positif. Sinar katode juga dapat memendarkan berbagai zat yang dilalui.
Artinya, benda yang dikenai sinar katode dapat memancarkan cahaya sehingga
dapat dimanfaatkan untuk membuat tabung televisi. Hasil eksperimen lain yang
dilakukan oleh Thomson bahwa sinar
katode adalah partikel bermuatan negative yang terdapat didalam atom dan diberi
nama electron. Adapun hasil
perbandingan antara muatan dan massa electron
sebesar 1,76 x 108 C/g. Pada tahun 1909, Robert Andrew Millikan dari Universitas Chicago melakukan
eskperimen tetes minyak oil untuk menentukan besarnya muatan electron.
Muatan electron dapat ditentukan dari tetesan minyak yang berada diantara
kedua electrode pada alat tersebut. Besarnya muatan electron (e)
diketahui
sebesar 1,6 x 10 -19 coulomb. Berdasarkan hasil eksperimen dari Crookes,
Thomson, dan Millikan, electron adalah sebuah partikel dasar atom yang yang
bermuatan negative sebesar 1,6 x 10 -19
coulomb dengan masa 9,09 x 10 -28 gram. Electron tersebut
terletak diluar inti atom.
b. Proton
Proton ditemukan oleh Goldstein pada tahun 1897 melalui serangkain percobaan dengan
menggunakan tabung sinar katode. Pada percobaan tersebut, diketahui adanya
sinar positif yang bergerak berlawanan dengan sinar katode (sinar bermuatan
negatif).
Selanjutnya, Ernest Rutherfhord bersama asistennya Hans dan Geiger, melakukan eksperimen untuk membuktikan adanya sinar atau
partikel bermuatan positif yang diamati Goldstein. Rutherford kemudian
menyimpulkan adanya inti atom yang bermuatan positif. Partikel yang bermuatan
positif yang terapat di inti atom itulah yang dinamakan proton. Muatan dari partikel dasar atom bermuatan positif tersebut
diketahui sebesar 1,6 x 10-19 coulomb dengan massa 1,67 x10-24
atau 1 sma.
c. Neutron
James Chadwick melalukan eksperimen Rutherford yang menemukan bahwa adanya
selisih setengah kali dari massa atom dengan massa inti atom (pada saat itu
baru diketahui proton berada didalam inti atom). Chadwick meyakini adanya partikel dengan massa hampir
sama dengan proton namun tidak bermuatan. Partikel itulah yng dinamakan neutron. Jadi, neutron (n) adalah suatu
partikel dasar yang tidak bermuatan (netral) dengan massa 1 sma. Neutron
terletak didalam inti atom bersama-sama dengan proton.
KONFIGURASI ELEKTRON
1. Konfigurasi
electron berdasarkan kulit atom
Pengisian
electron dalam kulit dimulai dari tingkat energy terendah sampai yang
tertinggi, yaitu dimulai kulit K,L,M,N,O,P,Q, dan seterusnya dengan jumlah
electron maksimal tiap kulit sesuai rumus 2n2. Susunan electron
dapat digambarkan sebagia berikut.
2. Konfigurasi elektron berdasarkan orbital
Struktur suatu atom ditentukan oleh posisi electron dalam atom tersebut. Oleh karena
itu, penjelasan mengenai struktur atom ini dipelajari melalui penggambaran
posisi elektronnya. Untuk menggambarkan posisi electron dalam suatu atom
berdasarkan model atom mekanika kuantum, digunakan istilah bilangan kuantum.
Pada model atom mekanika kuantum , diperkenalkan adanya orbital, yaitu tempat
ditemukannya electron. Ada empat jenis bilangan kuantum, yaitu bilangan kuantum
utama (n), bilangan kuantum azimuth (l), bilangan kuantum magnetic (m), dan
bilangan kuantum spin (s)
a.
Bilangan kuantum Utama (n)
Bilangan kuantum utama merupakan
lintasan electron yang dinyatakan oleh Bohr. Lintasan ini disebut kulit atom.
Posisi electron dalam kulit atom dapat ditentukan menggunakan bilangan kuantum
utama. Selain menyatakan posisi electron dalam kulit atom, bilangan kuantum
utama dapat menjelaskan jarak rata-rata awan electron dari inti atom serta
menjelaskan tingkat energy atom. Secara nyata, orbital dengan bilangan kuantum
utama berbeda, mempunyai tingkat energy yang berbeda. Semakin besar nilai n
tingkat energy atom semakin tinggi. Bilangan kuantum utama mempunyai harga
mulai dari 1,2,3,4, dan seterusnya. Bilangan kuantum utama dinyatakan dengan
lambang kulit K untuk n=1, kulit L untuk n=2, kulit M untuk n=3, kulit N untuk
n=4, dan seterusnya. Bilangan kuantum utama dari kuli-kulit atom dapat dilihat
pada table berikut.
b.
Bilangan kuantum Azimuth (l)
Bilangan kuantum azimuth menyatakan
subkulit. Subkulit tersebut diberi nama s ( sharp), p (principal), d (
diffuse), dan f (fundamental). Bilangan ini juga menentukan bentuk orbital. Setiap subkulit mempunyai bilangan kuantum
azimuth yang berbeda-beda. Nilai-nilai
untuk bilanganm kuantum azimuth dikaitkan dengan bilangan kuantum utama ( n-1).
Jumlah subkulit ditentukan menggunakan rumus:
L= 0,1,2,….(n-1)
Contoh jumlah subkulit pada setiap
kult terdapat dalam
-
Bentuk Orbital s, p,
d, f
Orbital s : 1 balon
Orbital p : 1 balon terpilin
Orbital d : 2 balon terpilin
Orbital f : 4 balon terpilin
c.
Bilangan kuantum magnetic (m)
Bilangan kuantum magnetic menentukan
orientasi orbital dalam ruang disekitar inti atom. Nilai bilangan kuantum
magnetic bergantung pada bilanga kuantum azimuth. Nilai bilangan kuantum
magnetic berkisar dari -l sampai +l , termasuk nol(0). Jadi harga m untuk
setiap subkulit dengan bilangan kuantum l
sebesar 2l+1
d.
Bilangan kuantum Spin (ms atau s)
Bilangan kuantum spin menyatakan arah
putar electron terhadap sumbunya (berotasi) sewaktu electron berputar
mengelilingi inti atom. Bilangan kuantum spin dinotasikan dengan s. arah rotasi
electron ada dua kemungkinan, yaitu berputar serah jarum jam dan berlawanan
dengan jarum jam. Oleh karena itu bilangan kuantum spin mempunyai dua harga
yaitu +1/2 yang dinyatakan dengan tanda panah keatas (↿) dan
-1/2 yang dinnyataka dengan tanda
panah kebawah (⇂)
Maka dari itu untuk setiap satu harga
spin menyatakan sebuah electron yang arah ptarnya ditunjukkan oleh tanda
aljabar +/- spin yang bersangkutan. Oleh karena ada 2 harga maka setiap orbital
atom juga hanya dapat diisi paling banyak dua electron dengan arah spin yang
berlawanan. Bilangan kuantum spin tidak digunakan untuk menentukan keadaan
orbital.
Penulisan konfigurasi electron
berdasarkan orbital didasarkan pada aturan berikut.
A.
ATURAN AUFBAU
Dalam keadaan stabil, atom-aton
cenderung menempati orbital yang mempunyai energy terendah. Aturan pengurutan
tingkat energy orbital dari yang terendah dikenal dengan istilah asas Aufbau,
yang berbunyi;
“ Pengisian electron dalam orbital
dimulai dari orbital dengan tingkat energy paling rendah. Setelah penuh pengisian berlanjut ke orbital
yang tingkat energinya satu tingkat lebih tinggi. Demikian seterusnya hingga
semua electron mnempati orbital”
B.
KAIDAH HUND
Pada tahun 1927, Friedrich Hund
menyatakan aturan untuk menggambarka arah rotasi electron. Aturan ini dikenal
sebagai aturan Hund, yang berbunyi:
“ electron - elektron yang berada dalam
satu orbital akan menempati orbital yang kosong dengan arah rotasi yang
sejajar. Selain itu, electron-elektron lainnya menempati orbital tersebut dengan
arah rotasi yang berlawanan”.
C.
LARANGAN PAULI
Tahun 1926, Wolfgang Linus Pauli
menyatakan aturan penulisan konfigurasi electron yang dikenal degan asas
larangan Pauli. Asas tersebut menyatakan: “ tidak ada dua buah electron dalam
orbital yang sama memiliki keempat bilangan kuantum yang sama.”
Berdasarkan asas larangan pauli itu,
jumlah eketron yang menempati sebuah orbital paling banyak dua electron dengan
arah rotasi yang berlawanan. Hal ini berarti bilangan kuantum n,l, dan m sebuah
orbital pasti sama, tetapi s berbeda. Dengan demikian jumlah electron maksimum
yang menempati suatu subkulit daopat dinyatakan dengan rumus:
Jumlah electron maksimum= 2 x jumlah
orbital dalam subkulit.
D.
Pengecualian
Konfigurasi Elektron dalam Subkulit d dan f
Kestabilan suatu
orbital dipengaruhi oleh sifat orbitalnya. Elektron dalam subkulit d akan lebih
stabil apabila subkulit d berisi elektron penuh atau setengah penuh. Untuk
mencapai kestabilan, satu elektron valensi dari subkulit s berpindah ke
subkulit d. penyimpangan juga terjadi pada subkulit f. tingkat energi subkulit
f sangan berdekaan dengan subkulit d sehingga satu atau dua elektron dari
subkulit (n-2) f berpindah ke subkulit (n-1) d. Orbital yang ditempati elektron
secara maksimum disebut orbital penuh. Orbital yang dtempati elektron sebanyak
setengah dari jumlah maksimum disebut orbital setengah penuh.
Contoh Soal:
1.
Tuliskan konfigurasi elektron dari 19K berdasarkan orbital.
Jawab:
Untuk menuliskan konfigurasi elektron, digunakan
nomor atomnya, yaitu 19
Konfigurasi
elektron atom K = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6
4s1
2.
Tuliskan konfigurasi elektron dari unsur tembaga (Cu) dengan
nomor atom 29.
Jawab:
Konfigurasi
elektron Cu = 1s2 2s2 2p6 3s2 3p6
4s2 3d9
Akan
tetapi, keonfigurasi elektron tersebut tidak stabil. Agar stabil harus penuh,
yaitu:
Cu = 1s2 2s2
2p6 3s2 3p6 4s13d10
Daftar Pustaka





















