Sabtu, 05 Oktober 2019

Asam Basa




KONSEP ASAM BASAπŸ’™πŸ’–
Assalamualaikum teman-teman 😍
diblog kali ini aku akan membahas tentang asam-basaπŸ˜²πŸ˜‰

                                                                      

          Sebelumya kalian pasti tau apa itu basa dan asam. Jika ada segelas jus lemon dan sebuah sabun pasti dengan mudahnya kita menentukan yang mana asam dan basa. Kita bisa merasaknannya jika berasa masam pasti itu asam dan jika berasa pahit pasti itu basa. Tapi tidak semuanya bisa kita cicipi seperti jus lemon dan sabun yang sudah familiar di kehidupan kita dan tidak berdampak buruk. Bagaimana jika yang akan kita uji asam basa merupakan suatu senyawa yang bisa dibilang berbahaya bagi diri kita ? kita dapat menentukan asam basa dengan menggunakan konsep para ilmuawa yang luar biasa.

1.       Teori Arrhenius πŸ‘¨
Pada tahun 1886, Svante August Arrhenius, ilmuwan dari Swedia mengemukakan teori menegenai asam dan basa. Menurut Arrhenius, asam difenisikan sebagai zat yang menghasilkan ion hydronium ( H­3O+) atau ion hydrogen ( H+) apabila dilarutkan dalam air.  nah teman -teman ternyata ada dua jenis asam dan dua jenis basa jika dilihat dari jumlah H⁺ (untuk asam) dan ion OH⁻ (untuk basa) yang dihasilkan dalam reaksi ionisasi. 
Contoh :
a. asam monoprotik (jumlah ion H⁺ = 1)
    HCl (π‘Žπ‘ž) → H(π‘Žπ‘ž) + Cl⁻ (π‘Žπ‘ž) asam klorida
b. asam poliprotik (  jumlah ion H⁺ > 1)
    H2SO4 (aq) 2 H+(aq) + SO42-(aq) asam sulfat
c. basa monoprotik ( jumlah ion OH⁻ = 1)
    NaOH (π‘Žπ‘ž) → Na(π‘Žπ‘ž) + OH⁻ (π‘Žπ‘ž) natrium hidroksida
d. basa poliprotik (  jumlah ion OH⁻ > 1)
    Ba(OH)2(aq) Ba2+ (aq) + 2OH (aq) barium hidroksida

Arrhenius mendefinisikan basa sebagai zat yang mengahasilkan ion hidroksida ( OH-) jika dilarutkan dalam air.
Contoh :
Alumunium Hidroksida
Al(OH)3(aq)↔Al³⁺ (aq) + 3OH-  (aq)
Dapat disimpulkan bahwa kita dapat menentukan asam basa dengan mudah tetapi teori Arrhenius ini hanya pada pelarut air. Jika pelarutnya bukan air dan zat yang terurai tidak menghasilkan ion H+ ­dan OH- , teori ini tidak berlaku. Reaksi asam basa yang tidak melibatkan ion H+ ­dan OH-  dapat dijelaskan menggunakan teori Bronsted Lowry dan teori Lewis. (Annik, 2017)



2.       Teori Bronsted LowryπŸ‘¬
Pada 1923, Johannes Nicolaus Bronsted, kimiawan dari Denmark dan Thomas Martin Lowry, kimiawan dari Amerika Serikat mendefiniskan tentang asam basa. Menurut Bronsted-Lowry, asam adalah spesi yang memberikan (donor) proton, sedangkan basa adalah spesi yang bertindak sebagai penerima (aseptor) proton dalam suatu reaksi transfer proton. Pada reaksi asam-basa  Bronsted-Lowry terdapat dua pasangan asam-basa konjugasi. (Annik, 2017)


Contoh:






Dapat disimpulkan bahwa teori ini dapat menjelaskan atau melengkapai konsep asam – basa Arrhenius tetapi tidak dapat menjelaskan reaksi asam basa yang tidak melibatkan transefer proton ( H+)

3.       Teori LewisπŸ‘¨

Pada 1923, Gilbert N. Lewis, kimiawan dari Amerika Serikat mendefinisikan bahwa asam basa berdasarakan teori ikatan kimia. Menurut lewis, asam adalah peneriman (akseptor) pasangan electron bebas. Sementara itu, basa adalah pemberi (donor) pasangan electron bebas. (Annik, 2017)






Cukup sekian terimakasih banyak 😊 byee byeeπŸ‘‹πŸ‘‹


 Annik, Q. (2017). Kimia Peminatan Matematika dan Ilmu-Ilmu Alam . Klaten , Jawa Tengah, Indonesia: PT Intan Pariwara.

1 komentar:

Asam Basa

KONSEP ASAM BASAπŸ’™πŸ’– Assalamualaikum teman-teman 😍 diblog kali ini aku akan membahas tentang asam-basaπŸ˜²πŸ˜‰                   ...